Minggu, 08 Januari 2012


Pejabat Masih Doyan Produk Luar Negeri

SEMARANG, KOMPAS.com - Karya anak negeri seperti mobil Esemka yang diciptakan anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Solo, Jawa Tengah, seharusnya mendapat dukungan pemerintah.
Oleh karena itu, jika Kementerian Perhubungan sudah menyatakan mobil Esemka yang kini digunakan sebagai mobil dinas Wali Kota Solo itu laik jalan, semestinya proses selanjutnya dari produksi mobil tersebut dipermudah.   
Masalahnya, izin itu berkorelasi dengan uang. Itu yang menjadi penghambat segala hal di lndonesia untuk maju. Apalagi perilaku pejabat yang masih doyan produk luar negeri, dan nyaman dengan kondisi status quo seperti sekarang.
"Ada kekhawatiran dari pihak industri otomotif yang sudah ada akan tersaingi," ujar Pengamat Transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, Rabu (4/1/2012) malam, menanggapi peluncuran mobil Esemka di Solo.  
Djoko berharap, seharusnya produksi mobil seperti Esemka yang dibuat dan dirakit anak-anak SMK tersebut mendapat dukungan negara, sehingga pada suatu saat mobil tersebut bisa menjadi komoditas ekspor Indonesia.  
Pejabat Indonesia hendaknya belajar dengan Jepang, India, dan Malaysia. Mulanya mobil nasional masing-masing negara itu toyota (Jepang), ambasador (India), proton (Malaysia) mendapat dukungan negara dan menjadi mobil dinas pejabat negara.
"Sekarang hasilnya sudah nampak, diekspor," ujarnya.


Tanggapan :
Kurang dukungan terhadap pemerintah membuat kemajuan Negara terhambat. Pembuatan mobil yang dibuat oleh pelajar SMK tersebut sangatlah bagus dan seharusnya dapat dikembangkan. Namun pemerintah kita ini sangatlah tidak baik. Seharusnya pemerintah dapat mendukung pembuatan mobil oleh anak negeri sendiri bukan malah membeli mobil dari luar negeri. Jika dukungan pemerintah kuat maka besar harapan bahawa Negara indonesia adalah Negara pengeksport mobil. Ini dapat menambah pendapatan Negara. Seharusnya pemerintah menyadari itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.